Jumat, 13 Juni 2014

Ibu




Ibu, bila di dunia ini bisa menukar kesedihan dengan kebahagiaan, pasti semua kebahagiaan yang aku miliki akan aku berikan semuanya.

Ibu, kenapa beberapa minggu ini aku ngerasa ada yang berubah. Nada suaramu tak seperti yang biasa aku kenal. Semakin hari semakin terdengar lemah. Aku merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Jangan terlalu khawatirkan anak lelakimu yang jauh ini. Ceritakan saja semua keluh kesahmu, agar aku juga tau. Aku juga anakmu. Aku bukan lagi anak kecil yang lemah. Aku bukan lagi anak kecil yang selalu menagis setiap rasa takut menghampiri. Aku bukan lagi anak kecil yang selalu kabur dari masalah. Aku sekarang jauh lebih dewasa. Aku juga tidak akan kabur lagi bila masalah selalu menghadang. Aku sekarang pria pemberani. Aku juga ingin tau apa yang terjadi. Apapun itu aku selalu ada untukmu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi bu, walaupun sekarang jarak kita terlalu jauh. Tolong ceritakan saja bu?

Ibu, aku rindu senyumanmu. Aku rindu bisa memelukmu lagi. Aku rindu usapan lembut tanganmu di kepalaku yang selalu engkau selipkan doa dengan suara yang menenagkan jiwa, penuh cinta kasih dan menenagkan. Apalagi aku rinduk kecupan dikeningku, bahkan aku selalu rindu untuk mencium tangamu. Aku rindu nasihat-nasihatmu yang penuh dengan kearifan dan kedamaian. Aku rindu saat engkau, aku, kakak, dan adik saling berbagi cerita dengan tawa yang mengembang, meskipun aku tau saat itu engkau menahan kesedihan. Saat itu kita bisa melewati segala permasalah bersama-sama. Yakin kali ini kita masih bisa melewati lagi, bahkan sebesar apapun masalah yang kita hadapi aku selalu siap menghadang bahkan mengusirnya. Tolong ceritakan saja bu?

Ibu, jangan terlalu sering menagis. Aku masih sering mendapatkan kabar engaku meneteskan air mata. Meskipun dulu setiap sepertiga malam engkau selalu meneteskan air mata di sela-sala sujud terakhirmu dan setiap doa yang engkau panjatkan. Meskipun aku hanya mendengar suara tangismu dan terkadang aku melihat dari balik tirai, aku juga ikut meneteskan air mata. Apalagi saat engkau melepasku untuk berjuang di sini. Saat itu aku melihatmu menagis. Itu tangisan terakhir yang aku lihat. Jangan pernah menangis lagi. Sekarang apapun masalahnya jangan pernah menangis lagi . Tolong ceritakan saja bu?

Ibu, aku selalu sedih bila memikirkan hal itu. Aku takut engkau yang semakin menua tak sanggup menahan beban sendirian.  Jangan takut aku tidak pulang. Aku pasti pulang. Engkau adalah alasanku untuk selalu pulang. Maka tolong ceritakan saja bu. Siapa tau aku akan pulang lebih cepat dari janjiku. Aku akan pulang secepatnya. Mungkin saja sekarang aku akan pulang. Menemui dan membagi kebahagiaanku bersamamu, Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar